REFLEKSI PASCA-VAKSINASI COVID-19 (Pdt. Mery Kolimon, Ketua Sinode GMIT)

0
372
Pdt. Mery Kolimon, Ketua Sinode GMIT
Pdt. Mery Kolimon, Ketua Sinode GMIT

gmitbetaniabaa.or.id- Senin, 11 Januari 2021 yang lalu saya dikontak oleh salah seorang pejabat di Biro Pemerintahan Provinsi NTT untuk menjadi salah satu dari pejabat publik di NTT yang mendapat vaksin Covid-19. Sebelumnya saya mendengar pak Presiden Jokowi menerima vaksin perdana bersama sejumlah tokoh publik di Jakarta, termasuk dari pihak PGI. Saya menduga bahwa pelibatan tokoh masyarakat sebagai penerima vaksin pertama menjadi cara yang ditempuh pemerintah untuk meyakinkan masyarakat di tengah-tengah pro-kontra penerimaan vaksin. Dalam keraguan yang masih ada di masyarakat tentang vaksin, kami berperan untuk meyakinkan publik. Saya percaya pemerintah tidak akan menyengsarakan masyarakatnya. Namun saya tidak mau serta merta percaya begitu saja. Dengan cepat saya mulai mencari informasi tentang keamanan vaksin. Sejumlah pertimbangan teologis saya rasa penting juga.

Mencari Informasi

Segera setelah itu saya mencari informasi tentang apa saja efek samping dari vaksin itu. Terus terang saya senang akan segera mendapat vaksin sebagai awal vaksinasi di NTT. Hal ini adalah bagian dari perjuangan melawan Covid-19 yang mengancam hidup manusia. Tapi di pihak lain saya juga kuatir terhadap efek samping vaksin karena mendengar beberapa informasi miring tentang vaksin. Saya bersyukur sejumlah kawan yang saya kontak untuk bertanya segera menjawab dengan sangat baik. Saya menerima daftar screening yang harus saya jawab untuk menguji diri sendiri apakah saya siap menerima vaksin. Ada daftar panjang pertanyaan tentang sejumlah hal yang perlu dicermati.

Dijelaskan dalam daftar itu bahwa orang-orang yang pernah terpapar Covid, sedang hamil dan menyusui, sesak napas, batuk pilek, riwayat alergi, punya penyakit kelainan darah, penyakit jantung, autoimun, saluran pencernaan kronis, hipotiroid autoimun, kanker, gula darah/diabetes melitus, dan penyakit paru (seperti asma dan TBC) tidak dapat menerima vaksin.
Untuk memastikan apakah saya bisa dapat vaksin, saya segera berkonsultasi dengan sejumlah dokter yang sebelumnya pernah membantu saya dengan analisa hasil check up. Saya mendapat dukungan luar biasa dari seorang kawan epidemiolog, seorang kawan dokter di Maumere, juga dokter di Kupang dan di Denpasar. Saya bersyukur setiap enam bulan melakukan pemeriksaan kesehatan sehingga kawan-kawan dokter itu lebih mudah melakukan analisa terhadap kondisi saya. Karena itu saya ingin mendorong semua orang melakukan cek up rutin di fasilitas kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Sebab dalam situasi seperti sekarang, hasil cek up seperti itu dibutuhkan.

Selain itu saya berkoordinasi dengan kawan-kawan MSH GMIT dan pimpinan PGI di Jakarta mengenai pandangan mereka tentang vaksin. Beberapa kawan merasa ragu, namun sebagian besar mendorong saya untuk menerima vaksin. Terutama pimpinan MPH PGI di Jakarta dan sejumlah kawan ketua majelis sinode beberapa gereja di grup WA pimpinan gereja anggota PGI sangat mendukung saya menerima vaksin, dengan catatan harus memastikan kondisi kesehatan saya baik berdasarkan konsultasi dengan dokter.

Adik saya yang perawat memberi pertimbangan berdasarkan laporan pelaksanaan vaksinasi dengan Sinovac di Brasil. Menurut informasi yang dia peroleh, bagi individu yang sudah divaksin apabila positif covid-19, 100% tidak mengalami gejala berat, 78% mengalami gejala ringan-sedang. Artinya bagi yang sudah divaksin kalau pun kena Covid-19 tidak sampai dirawat. Hal-hal itu memberi saya kekuatan untuk menerima vaksin. Suami dan anak-anak saya juga ikut mencari informasi di internet untuk menjadi dasar pertimbangan bersama kami.

Masih Belajar Mencermati Reaksi Tubuh terhadap Vaksin

Pagi ini, 15 Januari 2021, beta bangun dengan perasaan bercampur. Ada syukur karena semalam beta tidur lumayan lelap. Kadang-kadang tengah malam saya terbangun ke kamar kecil, tapi tadi malam saya tidur lumayan pulas. Ada juga perasaan cemas, bagaimana reaksi tubuh saya terhadap vaksin Covid-19 yang masuk ke tubuh saya. Tadi malam saya menuju tempat tidur dengan kesadaran bahwa dalam tubuh saya telah dimasukkan virus Corona yang sudah dinonaktifkan. Saya sudah hidup dengan virus Corona yang dilumpuhkan untuk membangun kekebalan dalam tubuh saya terhadap virus itu.

Saya mendengar bahwa setelah vaksin reaksi setiap tubuh berbeda. Beberapa orang mengatakan merasa pegal, mengantuk berat, dll. Setelah vaksin, saya rasa pegal di tangan. Namun kemampuan saya berkonsentrasi tetap baik. Selepas menerima vaksin kemarin saya memimpin rapat bersama kawan-kawan MSH dan MS-non pendeta secara online. Setelah itu saya ikut seminar online yang kami MSH selenggarakan. Dua acara itu berurutan dan saya bisa tetap fokus. Tadi malam saya kelelahan dan tidur tempo cukup pulas. Pagi ini saya jalan kaki 5000 langkah dan tetap bugar. Saya masih harus mengamati bahasa tubuh saya hingga 14 hari ke depan, saat saya kembali untuk mendapati vaksin tahap kedua. Saya mohon doa bagi semua yang telah divaksin agar tetap sehat dan menjadi tanda harapan bagi upaya mengatasi daya Covid-19 yang mengancam kehidupan.

Berteologi dalam Bencana

Kita masuk awal tahun dengan terlalu banyak berita duka dan luka. Halaman-halaman Facebook penuh dengan berita pilu yang menguras energi batin. Orang tua dan muda meninggal setiap hari. Ancaman itu kini begitu dekat. Kita semua bertanya: Kapan ini berakhir? Kemarin sore, 14 Januari 2021, dalam seminar online yang kami lakukan di GMIT mengenai perencanaan pelayanan di masa pandemi, seorang narasumber, yang membantu kami melihat peta perkembangan Covid-19 secara global, mengatakan pandemi ini bisa berjalan sampai 2025. Ini situasi yang cukup berat bagi semua orang, termasuk bagi gereja.

Dengan mulai dilakukannya vaksinasi, memang di sana sini ada perdebatan: Apakah vaksin ini bermanfaat atau akan merusak tubuh manusia? Banyak berita yang beredar. Ada yang mengklaim mendapat penglihatan Tuhan untuk tidak menerima vaksin: cukup berdoa, tidak usah bekerja. Saya secara pribadi melihat bahwa hal itu merupakan reaksi psikologis tengah situasi keterancaman yang dirasakan manusia. Namun pada saat yang sama, sangatlah penting untuk kita melatih diri mencari informasi dari sumber yang terandalkan. Tuhan memberi kita akal budi untuk menguji semua berita dan informasi, menguji semua suara yang mengklaim mendengar suara Tuhan. Gereja belajar memahami suara Tuhan (berteologi) pertama dan terutama dari Alkitab. Sumber berteologi yang lain adalah nurani tiap orang percaya, juga dari penyataan Allah dalam sejarah, dalam budaya, ilmu pengetahuan, dan dalam pengalaman hidup manusia, termasuk pengalaman penderitaan.

Roh Tuhan Berhembus atas Tulang-Tulang Kering

Tahun ini, GMIT menjadikan Yehezkial 37:14 sebagai teks yang membimbing pelayanan GMIT di masa pandemi Covid-19. Allah membawa Yehezkial ke dalam lembah penderitaan yang penuh tulang-tulang sangat kering yang tercerai berai, lambang dari kehidupan yang terputus dari Tuhan dan kehilangan masa depan. Tuhan menyuruh Yehezkial berbicara dengan tulang-tulang itu. Tuhan juga menyuruhnya memanggil roh dari empat penjuru mata angin masuk ke dalam tulang-tulang kering itu memberi kehidupan. Gereja tidak dibawa Tuhan untuk menghindari bencana. Sebaliknya Tuhan justeru menuntun gereja masuk dan berjuang di tengah-tengah lembah ancaman kehidupan itu. Namun tugas gereja tak berhenti untuk berada di situasi penuh ancaman secara pasif. Gereja mendapat panggilan untuk bersaksi tentang karya Roh Allah yang penuh kuasa untuk menghidupkan. Yehezkial mendapat otoritas untuk bernubuat kepada Roh Kudus untuk menghidupkan tulang-tulang kering itu.

Saya melihat tugas gereja di masa ini adalah belajar memahami realitas “tulang-tulang kering”, yaitu ancaman kehidupan di masa pandemi ini. Kita harus membuka mata untuk mendengar dan mempelajari temuan para ilmuan tentang perkembangan virus ini di seluruh dunia. Kita juga perlu realistis tentang bahaya dan ancaman yang kita hadapi. Namun kita tidak boleh hilang harapan. Justeru gereja dipanggil untuk mewartakan dan mengerjakan kabar baik di tengah situasi bencana. Dalam kerangka itu, vaksinasi oleh pemerintah perlu diterima secara positif sebagai keterlibatan gereja dalam karya Allah bagi pemulihan hidup manusia. Sekaligus kita perlu tetap kritis terhadap praktik-praktik yang bisa menciderai kemanusiaan dalam upaya-upaya manusia yang terbatas dalam proses vaksinasi itu.

Saya tetap mendorong anggota jemaat-jemaat GMIT dan umat Kristen di seluruh dunia membuka diri secara konstruktif terhadap upaya vaksinasi yang sedang berlangsung. Untuk itu, masing-masing orang sebaiknya sudah mengecek keadaan kesehatannya di fasilitas kesehatan terdekat sebelum menerima vaksin. Dengan menerima vaksin, kita sedang merawat kehidupan di tengah-tengah realitas “tulang-tulang kering”.

Seorang kawan berbagi pemikiran. Ada tiga jenis “tulang-tulang kering” – ada tulang-tulang fisik yg kering sebab kebugaran di dalamnya terancam; ada “tulang-tulang” mental yg kering sebab kemampuan untuk memakai akal budi dan belajar dari ilmu juga terancam (mungkin oleh ketakutan atau reaksi stres/psikologis); dan ada “tulang-tulang” spiritual yg kering ketika iman kita terancam oleh keputusaasaan, sinisisme dan kepasrahan.

Kita semua menjadi “tulang kering” berhadapan dengan pandemi. Yehezkiel memanggil roh dari empat penjuru. Vaksin salah satu penjuru, dan gereja berupaya juga untuk mengembalikan roh melalui pelayanan yang aman bagi umat.

Saya percaya bahwa dalam segala situasi, Allah kita adalah Imanuel; Ia beserta kita. Allah Tritunggal beserta kita tidak secara pasif, tetapi Allah berada bersama kita secara aktif. Ia bertindak untuk keselamatan dunia ciptaanNya. Kuasa dosa merusak hidup manusia dan alam semesta, namun Allah tak berhenti menolong manusia dan dunia yang rapuh. Keyakinan bahwa Allah beserta itu memberi manusia daya untuk bahu membahu bersama melawan kuasa sakit dan kematian di tengah-tengah ancaman pandemi Covid sekarang ini. Vaksin Covid-19 adalah bagian dari karunia Allah bagi budi manusia untuk mengolah ilmu pengetahuan menjadi bagian dari alat keselamatan. Menerima vaksin adalah bagian dari komitmen untuk merawat kehidupan.

Rumah bersama, Kantor Sinode GMIT, 15 Januari 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here