Sejarah GMIT Betania Ba’a Rote Ndao

PERINTISAN JEMAAT BETANIA BA’A

  1. Cikal – Bakal Jemaat Betania Ba’a

Sejarah berdirinya Gereja Betania Ba’a berkitan erat dengan gereja Menggelama pada tahun 1950-an, sehingga proses berdirinya gereja Betania tidak terlepas dari peran serta jemaat Menggelama. Pada mulanya gereja Menggelama merupakan gereja pertama di Lobalain yang dithabiskan pada tahun 31 oktober 1983 dan menjadi gereja pertama di Rote. Seiring berjalannya waktu, gereja Menggelama berhasil memekarkan jemaat – jemaat GMIT yaitu sebagai berikut:

  1. Pusat Ba’a Selatan memekarkan jemaat Efata Lekioen, Sanggaoen dan Nauhadeoen. Ada juga mata jemaat yang belum dimekarkan yaitu Takai dan Ne’e.
  2. Pusat Ba’a Barat memekarkan Oemaulain dan Mondo. Masih ada mata jemaat yang belum dimekarkan yaitu Taioen, Tilonisi, Tuanatuk dan Todan.
  3. Pusat Ba’a Utara memekarkan Betania Ba’a, Lekik, Metina dan Ndudale. Adapun mata jemaat yang belum dimekarkan ialah Oelunggu, Batu Kamba dan Oehunik.

Adapun gereja Betania Ba’a merupakan upaya jemaat Menggelama untuk memiliki tempat Ibadah menggantikan gereja Menggelama. Adapun beberapa pertimbangan untuk mendirikan gereja Betania Ba’a yaitu :

  1. Untuk Menggantikan gereja Menggelama yang sudah mulai mengalami kerusakkan berat yang diakibatkan oleh erosi dari sungai Menggelama.
  2. Pertumbuhan warga gereja sehingga gedung gereja Menggelama tidak dapat menampung jemaat.
  3. Jarak ke gereja Menggelama yang sangat jauh dan sulit dijangkau oleh jemat

Berdasarkan alasan – alasan diatas, maka dalam rapat majelis jemaat diputuskan untuk membangun gereja Betania dengan dana sukarela dan pada tanggal 31 Oktober 1958 dimulai dengan peletakan batu pertama oleh pemerintah setempat yang dijabat oleh Bapak N.G Ndun. Pada pembangunan tahap I ini terlaksana pada pembuatan fondasi gedung gereja yang pada waktu itu tahap pengerjaan dikerjakan oleh seluruh jemaat serta adapun partisipasi dari murid – murid dari Sekolah Guru Bawah (SGB) yang dikoordinir oleh para guru. Pembangunan ini kemudian sempat terhenti selama 12 tahun karena terbatasnya dana.[1]

Pembangunan ini dilanjutkan lagi tanggal 29 Oktober 1970 atas prakarsa Bapak Josias Pandie yang saat itu sedang menjabat sebagai camat Lobalain sekaligus majelis dengan Susunan panitia pembangunan antara lain :

Pelindung        : Bapak D.C. Saudale

Penasehat        : Pdt. J. E. Manoeain dan Dr. Buntoro

Ketua              : Bapak Josias Pandie

Wakil ketua      : Bapak Z. A.C. Nappoe

Sekretaris        : Bapak J. D. Dillak dan Bapak Yermias Henukh

Bendahara       : Bapak Pieter Boeki

Adapun para tokoh-tokoh jemaat yang sangat membantu perkembangan pembangunan gedung gereja Betania Ba’a yaitu :

  1. Alm. Bapak Pieter Boeki
  2. Alm. Bapak Martinus Lay
  3. Alm. Bapak Gustaf A. Pingak
  4. Bapak Petrus Bessie
  5. Ibu Jumima M. A. Manafe – Nalle

Pada tahun 1971, pembangunan dilanjutkan dengan tahap pendobelan fondasi karena fondasi awal yang telah dikerjakan sebelumnya dinilai terlalu kecil. Pada tahap pengerjaan ini melibatkan seluruh jemaat Menggelama.

Kegiatan pembangunan ini dikerjakan dengan tahap pengumpulan material serta dilanjutkan dengan pemasangan tembok gedung gereja yang dipercayakan sebagai kepala tukang ialah Alm. Bapak Ruben Wewo dan Alm. Bapak Herman Lay. Namun sementara pembangunan berjalan, Bapak Josias Pandie harus meninggalkan Ba’a karena dipindahtugaskan ke kupang dan Bapak Z.A.C. Nappoe menjadi ketua sementara. Pada  tahun 1974 terpilih ketua panitia yang baru Dr. Frans F. Radja Haba.

Masa Dr. Frans F. Radja Haba, perkembangan pembangunan berjalan dengan baik. Material kembali dikumpulkan oleh jemaat – jemaat antara lain pembelian batu di Desa Oeseda dan pasir dikumpulkan oleh jemaat. Adapun inisiatif untuk mengajukan proposal kepada Kantor Dinas Kehutanan yang pada saat itu Alm. Bapak Martinus Lay yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kehutanan. Atas jawaban yang disertai dengan pemberian kayu dari Kantor Dinas Kehutanan maka gereja memperoleh kayu. Setelah memperoleh kayu ini, maka tahap pengerjaan kusen jendela dan rangka atap dapat dikerjakan oleh Alm. Bapak Ly Jing Kae dan tahap pemasangan Plafon serta pembuatan mimbar dikerjakan oleh Bapak Martence Suwongto.

Pada bulan Juli tahun 1975, tahap pembangunan mencapai 95% dan pada saat itu diadakan Sidang Majelis Sinode GMIT di Jemaat Menggelama. Pada saat itu juga terjadi percakapan antara Pdt. Max Jacob yang pada saat itu menjabat sebagai ketua panitia Sidang Sinode GMIT dengan ketua Sinode GMIT yaitu Pdt. Dr. A. Abineno untuk dilangsungkan kebaktian penutupan Sidang Sinode dan pelayanan sakramen perjamuan kudus di gedung Gereja Bethania Ba’a. percakapan ini disetujui dan dilakukan penutupan serta pelayanan sakramen perjamuan kudus untuk pertamakalinya. Hal ini sangat memacu semangat para jemaat Menggelama untuk lebih giat mengerjakan proses pembangunan Gedung Gereja Bethania Ba’a.[2]

Pada tanggal 21 Desember 1975 selesai kebaktian minggu di gereja Menggelama, jemaat bergotong-royong memindahkan kursi, bangku dan peralatan lainnya ke gedung gereja Betania. Kebaktian pertama di gedung gereja Betania berlangsung tanggal 24 Desember 1975 dipimpin oleh Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th. Pada masa ini gereja belum selesai dikerjakan namun sudah layak beribadah dan ibadah sudah terus dilangsungkan, sedangkan pembangunan tetap dijalankan. Jemaat serta seluruh struktur organisasi dalam Gereja Betania merupakan komponen yang sama ketika masih beribadah di Gereja Menggelama karena hanya beralih tempat ibadah saja. Akan tetapi adapun upaya dari jemaat – jemaat untuk memugar kembali gedung Gereja Menggelama yang pada waktu itu tidak dibongkar.[3]

  • Jemaat Bethania Ba’a Berdiri Sendiri

Pada tanggal 31 Oktober 1976, gereja Betania diresmikan oleh Pdt. Max Jacob yang pada waktu itu menjabat sebagai visitator Rote-Ndao dan Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th menjadi pendeta pertama yang melayani di jemaat Betania. Pada masa ini, Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th mempunyai rekan sepelayanan yaitu Pdt. Naomi Jacob – Kedoh. Namun Pdt. Naomi Jacob – Kedoh tidak melayani oleh karena ia menikah dan harus berpindah ke Eahun – Rote Timur.[4]

Walaupun semua jemaat beribadah di gedung gereja Betania, tetapi upaya untuk pemugaran kembali gedung gereja Menggelama. Adapun upaya yang dilakukan dengan membentuk sebuah panitia untuk pemugaran kembali gedung gereja Menggelama. Panitia kemudian mendapat dana bantuan dari pemerintah melalui menteri sosial republik indonesia, bantuan pribadi dari Dr. Adrianus Mooy dan didukung oleh swadaya jemaat, maka proses pemugaran selesai dikerjakan namun belum digunakan untuk melaksanakan kebaktian minggu. Gereja Menggelama kemudian hanya difungsikan untuk kegiatan PAR dan pemuda.

Pada masa Pdt. Simson J. Suma’a, S.Th barulah gedung gereja Menggelama digunakan untuk kebaktian minggu dengan jalan yang ditempuh dengan cara membagi anggota jemaat. Adapun pembagian yaitu anggota jemaat yang bermukim di daerah Letelangga, Batunase, Menggelama dan Sambuku menjadi anggota jemaat dari gereja Menggelama sedangkan Anggota jemaat yang bermukim di daerah Namodale, Asrama Polisi, Kampung Ninik, Matanitan, Sebelahkali dan Ba’adale. Walaupun jemaat Menggelama sudah beribadah sendiri, namum masih tetap menjadi bagian dari gereja Betania karena gereja Menggelama belum sepenuhnya mandiri oleh karena kurangnya rumah pastori atau rumah jabatan pendeta.

Pada masa kepemimpinan Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th, beliau memimpin dengan sangat fleksibel, penuh hikmat, lemah lembut serta sangat bijaksana.  Beliau melihat semua jemaat sama atau tidak membedakan kasta dan golongan tertentu serta sangat konsisten dengan waktu.

Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th adalah pendeta yang berasal dari suku Rote, Ia lahir pada 25 Januari 1918 di Lekik. Beliau menikah dengan Pdt. Sarah Susana Manuain – Messah, Sm.Th dan dikarunia 8 orang anak yaitu Barnabas Ebenhaezer Manuain, Belandina Amelia Manuain, Yohana Martha Manuain, Sarah Adolfina Manuain, Imanuel Manuain, Intan Wehelmina Agustina Manuain, Dio Syalom Anugrah Manuain dan Erlin Elehazerina Yakomina Manuain.[5]

Pada masa kepepemimpinannya, beliau memimpin kebaktian minggu dengan tata ibadah yang ditetapkan oleh Sinode GMIT dan adapun lagu – lagu yang digunakan yaitu Sekarang Bersyukur (SBS), Nyanyian Rohani, Dua Sahabat Lama, Nafiri Perak dan Kidung Jemaat.[6]

Adapun Penatua yang dipercayakan untuk memipin kebaktian apabila Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th, berhalangan yaitu :

  1. Bapak Tom Bartels;
  2. Bapak Zadrak Foeh;
  3. Bapak Petrus Bessie;
  4. Bapak Daud Manafe (Alm);
  5. Bapak Alex Zacarias (Alm);
  6. Ibu Yeni Fanggidae;.

Adapun majelis – majelis dan koster pada waktu itu ialah :

  1. Ibu Anna Yuliana Nalle – Landja;
  2. Bapak Zadrak Foeh;
  3. Bapak Yakobus Arnoldus;
  4. Bapak T. V. A. Bartels;
  5. Bapak Daud Manafe;
  6. Bapak H. Laelu;
  7. Bapak Daniel Soeki;
  8. Ibu Octaviana Markus – Amalo;
  9. Bapak Julius Mandala;
  10.  Bapak Marthen Luther Saek;
  11.  Bapak Petrus Bessie;
  12.  Bapak Filipus Helli (Koster).

Pada masa ini, dalam mengatur perbendaharaan gereja maka semua persembahan dikumpulkan dan dibawa ke kantor Yapenkris. Di sana baru dilakukan penghitungan uang persembahan oleh bendahara gereja didepan Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th serta dicatat dalam buku Kas. Hal ini dilakukan oleh karena semua administrasi disimpan di kantor Yapenkris.

Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th melayani hingga pensiun tahun 1982, kemudian digantikan oleh Pdt. Drs. J. Naisonis, S.Th pada tahun 1982. Namun Pdt. Jacob E. Manoeain, Sm.Th masih tetap melayani. Pada tahun 1997 beliau jatuh sakit dan harus dibawah ke Kupang dan di sana beliau di diagnosa mengalami gangguan di bagian lambung yang mulai mempengaruhi fungsi hati. Pada bulan november, beliau dirujuk ke Rumah Sakit Cikini – Jakarta dan setelah diperiksa ternyata beliau mengalami sakit Lever. Adapun tindakan operasi pada waktu itu juga dan proses berjalan dengan baik. Pada bulan desember beliau menjalani masa pemulihan di Jakarta dan bulan januari 1998 beliau kembali ke Rote. Namun, sangat disayangkan bahwa pada bulan maret, bekas operasi mengalami pembengkakkan dan beliau kembali jatuh sakit. Adapun upaya yang untuk mengobati namun kondisi beliau semakin hari semakin buruk dan akhirnya beliau menghembuskan nafas teakhir pada tanggal 28 Mei 1998 dan kemudian jenazah beliau dimakamkan di Lekik.[7]

  • Tempat Ibadah

Berkaitan dengan tempat ibadah, jemaat Betania Ba’a sudah mulai beribadah di gedung gereja Betania pada tanggal 24 Desember 1974, meskipun pembangunan belum sepenuhnya diselesaikan. Jemaat Betania menjadi mandiri pada tanggal 31 Oktober 1976 yang diresmikan oleh visitator di Rote yaitu Pdt. Max Jacob.


[1] Tom Bartels, Wawancara, Rote – Ba’a, 15 Maret 2016.

[2] Petrus Bessie, Wawancara, Rote – Menggelama, 05 April 2016.

[3] Idem.

[4] Jumima M. A. Manafe, Wawancara, Rote – Ba’a, 11 April 2016.

[5] Imanuel Manuain, Wawancara, Rote – Letelangga, 11 April 2016.

[6] Yuliana Lay – Bessie, Wawancara, Rote – Ba’a, 30 Maret 2016.

[7] Idem, Imanuel Manuain.