Visi Misi

Visi pelayanan GMIT pada periode 2020-2023 merupakan gambaran pernyataan kondisi yang dicita-citakan pada tahun 2020-2023. Upaya untuk mencapai kondisi tersebut dijabarkan dalam misi, tujuan dan sasaran yang terukur yang menggambarkan agenda yang akan dilakukan oleh GMIT dalam mewujudkan pencapaian visi tersebut. Misi selanjutnya dijabarkan lebih operasional ke dalam tujuan dan sasaran yang disertai dengan indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pencapaian visi.

A. Visi
Pernyataan visi pelayanan GMIT adalah gambaran tentang upaya yang akan dilakukan oleh GMIT mengenai:
1. Arah yang jelas tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai dalam empat (4) tahun mendatang (clarity of direction).
2. Menjawab permasalahan pelayanan GMIT pada lingkup sinode dan sekaligus nenjadi panduan bagi pelayanan di lingkup klasis dan jemaat berupa isu strategis yang perlu diselesaikan dalam jangka menengah.
3. Selain itu, pernyataan visi juga harus diikuti dengan penjelasan yang lebih operasional sehingga mudah dijadikan acuan bagi perumusan kebijakan, strategi dan program (articulative), penjelasan mengapa visi tersebut dibutuhkan oleh GMIT dan seluruh lingkup pelayanan GMIT di daerah, relevansi visi dengan permasalahan dan potensi pelayanan serta harus sejalan dengan visi dan arah pelayanan jangka panjang GMIT sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen Rencana Induk Pelayanan (RIP) GMIT.

Berangkat dari kriteria tersebut, maka kondisi yang akan dicapai empat tahun ke depan, dirumuskan dalam HKUP GMIT 2020-2023 Periode III RIP 2011-2030, yang secara umum dinyatakan dalam visi: ROH TUHAN MENJADIKAN DAN MEMBARUI SEGENAP CIPTAAN.

Makna Visi Pelayanan Sinode GMIT 2020-2023 tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Makna Roh Tuhan Menjadikan dan Membarui
Jika pada periode 2015-2019, penekanan kita adalah pada formulasi kristologi, Yesus Kristus adalah Tuhan sebagai tema pelayanan GMIT, maka pada tahap penguatan ini, refleksi kita dilengkapi dengan rumusan pneumatologi: Roh Tuhan Menciptakan dan Membarui Segenap Ciptaan (bnd. Mzm 104:30).

Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, memberikan kepada kita refleksi yang sangat kaya mengenai karya Sang Roh. Ketika bumi belum berbentuk, Sang Roh melayang-layang di gelap gulita yang menutupi samudera raya. Oleh kehadiran dan karya Sang Roh semua tercipta. Itulah yang ditegaskan oleh Mazmur 104:30: “Apabila Engkau mengirim Roh-Mu, mereka tercipta, dan engkau membaharui muka bumi”. Seluruh ciptaan menjadi ada karena karya Roh Allah.

Karya Sang Roh adalah juga sebagai pembaru, mentransformasi dan mengubah, menobatkan dan memperbaiki. Sebagaimana kesaksian nabi Yehezkiel dalam Kitab

Yehezkiel 37:1-14. Ketika Allah mengirim Roh-Nya (‘nafas hidup’) tulang-tulang kering tercipta kembali. Dalam konteks keterpurukan bangsa Israel akibat dosa dan pemberontakannya, hanya Roh Allah yang mampu menciptakan kehidupan baru dan membaharui kerusakan. Dibarui juga mengandung pengertian merawat dan memulihkan kerusakan persekutuan. Ada pertobatan dalam proses pemulihan seperti perumpamaan pokok anggur yang benar, di mana ranting-ranting yang tidak berbuah dan berpotensi merusak keseluruhan pohon itu harus dibersihkan.

Saat murid-murid ketakutan ketika Yesus ditangkap, disalibkan, dan mati di Golgota, murid-murid menyembunyikan dirinya di tempat tertutup. Saat itu, Yesus hadir di tengah-tengah mereka dan menghembuskan napas-Nya, yaitu Roh-Nya kepada mereka. “Terimalah Roh Kudus”. Oleh pemberian Roh itu, para murid menerima kuasa untuk menyatakan pengampunan dan menyerukan pertobatan (Yoh. 20:22- 23)

Sebelum Yesus terangkat ke sorga, Ia telah menjanjikan Roh-Nya. Pada peristiwa Pentakosa, Roh Tuhan turun dalam bentuk angin, api, dan bahasa. Dalam Kisah Para Rasul 2, Roh-Nya menyertai gereja. Roh itu diberikan kepada murid-murid untuk menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, untuk menyembuhkan relasi, untuk terlibat dalam pemulihan masyarakat dan alam.

Tema GMIT periode 2020-2023 hendak menegaskan visi GMIT bahwa dalam berbagai tantangan yang dihadapi oleh gereja dan masyarakat di mana GMIT melayani, GMIT beriman bahwa Roh Tuhan memberdayakan gereja untuk turut terlibat dalam karya kebaikan Tuhan. Kita bisa menjadi seumpama 10 pengintai yang pulang dari Kanaan dan mengatakan bahwa “tantangan itu terlalu besar, kita/GMIT tak mampu menghadapinya”. Namun semangat kita mestinya seperti Kaleb dan Yosua, tantangan itu sangat besar namun kita akan mampu. Roh Tuhan akan melengkapi kita untuk melaksanakan amanat pengutusan dalam kompleksitas tantangan zaman. Dia yang mengutus kita dan Dia akan melengkapi kita dengan daya Roh Kudus untuk berkarya dan berhasil dalam pimpinan-Nya (bnd. Bil. 13-14). Kita bergulat dengan banyak masalah, sekaligus dengan harapan: Tuhan Allah, melalui Roh-Nya, sedang berkarya mendatangkan kebaikan bagi dunia, bagi NTT dan NTB, wilayah pelayanan GMIT.

Tantangan pelayanan ke depan bagi GMIT tidak mudah tetapi refleksi di atas memberi petunjuk bahwa GMIT tidak perlu takut menghadapi perubahan situasi yang mungkin terjadi. Atas semua kemungkinan yang akan terjadi, GMIT perlu berupaya dengan mengembangkan semua kapasitas sumberdaya yang ada. Akan tetapi, hal yang perlu dicatat adalah bahwa selalu harus dipastikan dalam semua upaya yang dilakukan oleh GMIT agar harus dibuka ruang bagi Roh Kudus bekerja dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian program yang disusun. Mengandalkan kekuatan sendiri selalu tidak memadai, dan oleh karena itu bersikap rendah hati dan berpikiran terbuka akan menuntun GMIT bahwa indahnya bekerja bersama Roh Kudus.

2. Makna Segenap Ciptaan
Karya Roh itu menciptakan segenap makhluk. Bukan hanya manusia yang menerima hidupnya dari Sang Roh. Seluruh ciptaan ada karena Allah mengirimkan Roh-Nya.

Mazmur 104:30 menekankan suatu perspektif inklusif dalam memahami karya Roh Kudus. Segenap makhluk memiliki dalam dirinya daya ilahi. Teks ini mendorong penghormatan terhadap semua manusia dan segenap ciptaan sebagai karya Roh Allah.

Tema pelayanan ini menegaskan pada kita beberapa hal penting. Pertama, pelayanan gereja tidak bisa hanya terpusat pada manusia. Pelayanan gereja mesti meliputi segenap ciptaan. Misi gereja untuk terlibat dalam karya penciptaan, penyelamatan, dan pembaharuan tidak bisa hanya ditujukan pada manusia, melainkan untuk semua makhluk. Kedua, Roh Kudus berkarya melintasi suku, bangsa, budaya, dan agama. Karya penciptaan dan pembaharuan Sang Roh tidak hanya terbatas dalam gereja. Karya-Nya meliputi semua makhluk. Untuk itu penting bagi gereja guna membangun relasi kemitraan dengan berbagai pihak yang memiliki misi yang sama, yaitu untuk memperjuangkan kemanusiaan sejati dan kebaikan semua ciptaan.

Dalam refleksi di atas tergambar jelas, bahwa sasaran pelayanan GMIT tidak bersifat eksklusif melainkan inklusif. Itulah panggilan pelayanan oleh GMIT. Bukan hal yang ringan karena banyak kendala sosial, ekonomi, budaya, bahkan ajaran yang dapat menjadi penghalang afeksi yang diperlukan bagi bersikap etis secara inklusif. Pada titik ini, menghadirkan Roh Kudus menjadi hal yang esensi. Buah-buah Roh seperti yang termuat di dalam Galatia 5:22-23 akan memampukan GMIT dalam pelayanan inklusifnya.

3. Makna Roh Kudus Berkuasa atas Gereja, Masyarakat dan Semesta
Memulai karya-Nya, Tuhan Yesus memproklamasikan, bahwa Roh Tuhan ada pada- Nya. Roh itu mengurapi-Nya untuk melakukan karya pembebasan dan memberitakan rahmat Tuhan bagi orang miskin, orang tawanan, orang buta, dan tertindas (Luk. 4:18-19). Peranan Roh Kudus sangat penting dalam karya Yesus Kristus. Peristiwa- peristiwa besar untuk pemulihan dan penyelamatan yang Yesus Kristus kerjakan adalah karena daya Roh Kudus.

Roh Kudus masih tetap berkarya dan berkuasa dalam semesta. Gereja, yaitu persekutuan para murid Kristus, yang menerima hembusan Roh Allah, diberi daya untuk terlibat dalam karya Sang Roh. Gereja akan menjadi berdaya untuk karya- karya besar dalam sejarah masa kini jika gereja bergantung pada karya Sang Roh.

Karunia Roh itu tidak boleh dipakai hanya untuk kepentingan gereja sendiri, baik secara pribadi maupun organisasi. Karunia Roh mesti dimanfaatkan untuk pelaksanaan misi gereja, terutama untuk kreativitas, pemulihan dan pembaharuan gereja, masyarakat, dan semesta. Memproklamasikan karya Roh Tuhan dalam gereja, masyarakat dan semesta mesti diwujudkan dalam keterlibatan gereja secara tekun untuk pemulihan dan pembaruan ciptaan menuju kepada keadaan yang Tuhan kehendaki.

Refleksi pada bagian ini menegaskan bahwa GMIT memiliki modal besar dalam melaksanakan panggilan pelayanan guna mewujudkan Kerajaan Allah di bumi. Ada banyak isu strategis, ada banyak kemungkinan pilihan strategi dan program pelayanan untuk menghadapi isu-isu strategis yang dihadapi GMIT. Modal terbesar

bagi pelaksanaan program GMIT adalah menghadirkan Roh Kudus dalam pelayanan GMIT.

B. Misi
Misi merupakan rumusan mengenai upaya dan tahapan yang diyakini dapat dilakukan dalam mencapai visi. Rumusan Misi harus memenuhi beberapa kaidah sebagai berkut:
1. Menunjukkan dengan jelas upaya-upaya yang akan dilakukan oleh GMIT dalam rangka mewujudkan visi daerah;
2. Disusun dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis eksternal dan internal GMIT.
3. Disusun dengan menggunakan bahasa yang sederhana, ringkas, dan mudah diingat.

Perwujudan visi pelayanan Sinode GMIT ditempuh melalui misi untuk memberikan arah dan batasan proses pencapaian tujuan, maka tujuan pelayanan yang tertuang dalam visi, dijabarkan secara lebih konkret ke dalam lima misi HKUP Sinode GMIT 2020-2023 sebagai berikut:

1. Misi 1: Koinonia
Mewujudkan pelayanan persekutuan yang kudus dengan menyelaraskan relasi-relasi GMIT baik secara internal dan eksternal, maupun relasi oikumenis GMIT.

Misi ini sekaligus merupakan perekat bagi empat misi lainnya, yaitu marturia, diakonia, liturgia, dan oikonomia dengan keyakinan, bahwa pelayanan gereja membutuhkan persekutuan yang erat dan kudus antara semua pemangku kepentingan (stakeholder) dalam tuntunan Roh Kudus.

2. Misi 2: Marturia
Menguatkan kesaksian GMIT di tengah dunia melalui penguatan ajaran GMIT serta soliditas dan peningkatan peran serta jemaat dalam pelayanan.

Tugas gereja yang juga sangat penting adalah memberi kesaksian tentang Allah Tritunggal dan seluruh kebaikannya. Dengan tuntunan Roh Kudus, jemaat pada semua kategorial akan didorong agar mampu bersaksi dengan cara mampu mempertanggungjawabkan iman dan membuktikan keunggulan karyanya di tengah dunia.

3. Misi 3: Diakonia
Mewujudkan dan menguatkan pelayanan diakonia transformatif GMIT dengan mendorong kesadaran bergotong royong dalam jemaat sebagai suatu persekutuan.

Hampir semua wilayah GMIT adalah salah satu kantong kemiskinan di Indonesia. Data terbaru dari BPS Indonesia menunjukan bahwa kondisi per Maret 2019, NTT adalah provinsi yang mengalami peningkatan jumlah orang miskin ketika di 28 provinsi lainnya mengalami penurunan jumlah orang miskin. NTT adalah provinsi termiskin ke-3 di Indonesia, di atas Papua dan Papua Barat. Menteri Pedidikan Indonesia, Muhajir Effendy, pada tahun 2018 menyatakan bahwa, berdasarkan kriteria nilai Ujian Nasional SMP dan SMA, NTT adalah NTT adalah provinsi ke-3 dari bawah sesudah Papua dan Papua Barat. Data pada Bappenas sampai Mei 2019, NTT

adalah propinsi stunting tertinggi di Indonesia (42.6%). Provinsi NTT juga adalah salah satu daerah dengan indeks risiko bencana yang tertinggi di Indonesia.

Dalam situasi di atas, maka GMIT yang menerima amanat kerasulan dari Sang Diakonos Agung, Tuhan Yesus Kristus, harus berada di barisan terdepan dalam mengatasi rupa-rupa kesulitan tadi. Diakonia tranformatif yang menggabungkan pola diakonia karitatif dan diakonia reformatif harus dikuatkan pada periode 2020-2023. Saatnya, GMIT membangkitkan kembali semangat persekutuan (gotong royong) baik anggota jemaat maupun semua kemungkinan yang disediakan oleh hubungan- hubungan oikumenis dalam kegiatan diakonia transformatifnya.

4. Misi 4: Liturgia
Menguatkan bentuk liturgia GMIT yang menghidupkan peribadatan dan memberi inspirasi bagi jemaat agar mampu menampilkan substansi liturgia dalam kehidupan sehari-hari sebagai saksi Kristus di dunia.

Liturgia adalah cara kehadiran gereja di dalam dunia yang khas melalui khotbah, pujian dan rupa-rupa respons. Liturgia bukan hanya tata cara peribadatan di gereja dan atau kebaktian lainnya. Liturgia juga harus dinyatakan dalam kehidupan setiap hari sehingga tiap-tiap anggota jemaat GMIT sebagai basis pelayanan dapat menyatakan diri sebagai garam dan terang bagi dunia. Pada periode ini GMIT akan mengupayakan bentuk liturgia, dengan dituntun oleh Roh Kudus, yang menguatkan jemaat dalam peribadatan dan sekaligus menguatkan dan memberi inpirasi bagi jemaat agar mampu berperan sebagai saksi Kristus dalam hidup nyata tiap-tiap hari.

5. Misi 5: Oikonomia
Menguatkan tata kelola organisasi GMIT menuju organisasi GMIT yang disipilin, produktif dan akuntabel melalui penerapan secara konsisten prinsip-prinsip pengelolaan manejemn organisasi GMIT. Selain itu, juga perlu penguatan tatakelola lingkungan hidup dan sumberdaya alam GMIT menuju sistem Lingkungan Hidup dan SDA yang produktif, stabil, berkelanjutan, adil, dan otonom.

GMIT adalah suatu organisasi biasa sekaligus tidak biasa karena adanya dimensi metafisik dengan Allah Tritunggal. Leadrship, moralitas, pengetahuan dan kedisiplinan adalah kunci dalam melaksanakan manajemen organisasi, yaitu planing, organization, actuating, and controlling. GMIT akan mendorong agar sumberdaya gereja (manusia, biaya, material dan lain-lain) dapat dikelola dengan sistem perencanaan yang benar, pengorganisasian yang sesuai dengan kebutuan riil, pelaksanaan perencanaan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas) sebagai tanda bekerjanya fungsi pengendalian organisasi. Sinode GMIT juga akan mendorong peningkatan pengetahuan dan menguatkan jaringan kerja sama dengan berbagai pihak agar mampu mengelola dan memanfaatakan lingkungan hidup dengan benar serta tangguh dalam menghadapi semua risiko lingkungan yang niscaya terjadi.